Rokok dan Segala Keburukannya
Ayah, seorang bapak 3 anak yang sukanya main gitar, juga
makan. 2 Tahun yang lalu, beliau memang sudah terlihat kurus. Tapi kami kira
itu sebab beliau banyak pikiran, tapi ternyata saat ayah periksa ke dokter,
gulanya tinggi. Kami panik, mungkin karena beliau mempunyai garis keturunan seperti
itu. Ibu akhirnya mulai mengurai yang manis-manis, tidak hanya untuk ayah, tapi
juga untuk anak-anaknya.
Satu bulan yang lalu, ayah mulai batuk batuk. Tapi tidak
seperti batuk biasanya, hampir 2 minggu lebih. Dan ketika beliau batuk, rasanya
manyakitkan dan sesak. Akhirnya dibawalah ke dokter, katanya ayah terkena TBC. Beliau
memang perokok aktif , sebelum ibu memutuskan untuk mentiadakan rokok dirumah,
tapi saat di luar ayah tetap saja merokok. Di dalam tasnya selalu ada putung
rokok dan korek api gas, dan ibu pun selalu membuang itu semua. Kami sudah sering bilang agar ayah berhenti merokok, tapi rasanya sia-sia. Seperti kecanduan yang tidak ada obatnya.
Sayangnya, ayah terlambat berhenti merokok. Hati saya hancur
mendengar penjelasan ibu, 6 bulan harus meminum obat. Masalahnya bukan pada
jangka waktunya, tapi pada jenis obatnya. Kamu bisa bayangkan, bagaimana obat
itu harus diminum 4 butir sekaligus dengan ukuran yang lumayan besar? 4 butir
obat paru, 2 butir obat gula, antibiotik, dan segala macamnya. Jika di total
mungkin ada 14 butir obat yang masuk kedalam tubuhnya selama satu hari,
bagaimana rasanya jika 6 bulan? Belum lagi minggu ini beliau mulai gatal-gatal
semacam alergi. Ayah juga harus meminum obat gatal, belum termasuk vitamin, juga
obat herbal. Kadang, ayah sudah mulai lelah meminum obat.
Untunglah ibu selalu sabar merawat ayah yang suka pesimis, bagaimanapun
ibu selalu siaga terhadap kondisi ayah. Tapi tetap saja, ibu juga manusia yang
suka mengeluh. Memang tidak di perlihatkan, tapi saat beliau sholat, tangisan
itu pasti terdengar. Saat ayah ditanya “ayah mau ngerokok lagi?” ayah Cuma bisa
senyum, sambil bilang “kalo di kasih satu bungkus juga ayah gamau. Ayah masih mau nemenin kamu, nana sama odi.”
Tidak hanya ayah, dampak buruk rokok juga merubah nasib
teman saya, juga ayahnya. Ayahnya meninggal sebab beliau perokok aktif, dan teman
saya di diagnosa terjangkit Bronkitis. Pilihan hidupnya hanya 2: terus merokok
hingga mati, atau berhenti merokok dan sembuh dari penyakit tersebut? Teman
saya pun berhenti merokok, hingga saat ini.
Pernah sesekali saya terkena ampas rokok, ketika dijalanan. Rasanya, saya juga berhak menghirup udara bebas. Bukankan perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif? kalau bisa, kenapa ampas dan asapnya tidak ikut di telan saja? bukankah itu adil? Mereka menghirup rokok sendiri, maka ketika sakit jangan bawa orang di sekitar. Saya juga punya hak menghidup udara yang bersih.
Untuk siapapun yang membaca tulisan ini, semoga Allah buka
hatinya untuk berhenti merokok dan jangan sampai terlambat berhenti. Banyak yang
butuh kehadiran kamu. Banyak yang sayang sama kamu. Banyak hal baik di dunia
ini, kenapa kamu habiskan hanya untuk merokok? siapkah merasa sesak nafas? Siapkah
batuk tidak berhenti-berhenti? Siapkah meminum obat 14 butir sehari? Siapkah dijauhi
oleh teman-teman terdekatmu? Siapkah meliahat ayah, ibu, istri, suami,
keluarga, bahkan sahabatmu menangisi keadaamu? Tolong dengan ter-amat, berhenti
sebelum rokok itu bersarang di tubuh. Berhenti, sebelum rokok itu membuat maut
datang lebih cepat. iya, teruskan saja jika kamu ngga sayang sama dirimu sendiri.
Maaf, karena belum bisa memberikan semua waktu ria kepada Ayah dan Ibu. Masih suka mengeluh, Semoga bahagia, sehat, dan dalam lindungan Allah selalu.
Semoga, Ayah lekas sembuh.
- Nabi Salallohu Alaihi Wasallam bersabda: "barangsiapa menghirup racun hingga mati, maka dia akan menghirup racun tersebut di dalam neraka jahanam selama-lamanya" (H.R. Bukhori Muslim).
- "dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk" (QS Al-A'raf : 157)
- "dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan"(QS. Al Baqarah : 195)

Komentar
Posting Komentar